RenunganHarian Roma 14:1-16. Apa perintah Tuhan bagi kita dalam hal-hal yang meragukan? Hal-hal praktis apakah yang kita perlu lakukan dalam hidup setiap hari? (Ayat. 1-6) Perintah Tuhan adalah terimalah orang yang lemah imannya tanpa mencakapkan pendapatnya, siapa yang makan jangan menghina orang yang tidak makan demikian sebaliknya sebab Allah telah menerima orang itu.
Renungan Harian Roma 141-16 Jangan Menghakimi Saudaramu Renungan Harian Roma 141-16. Apa perintah Tuhan bagi kita dalam hal-hal yang meragukan? Hal-hal praktis apakah yang kita perlu lakukan dalam hidup setiap hari? Ayat. 1-6 Perintah Tuhan adalah terimalah orang yang lemah imannya tanpa mencakapkan pendapatnya, siapa yang makan jangan menghina orang yang tidak makan demikian sebaliknya sebab Allah telah menerima orang itu. Baiklah setiap orang memiliki keyakinan yang teguh dalam hatinya, lakukanlah segala sesuatu seperti untuk Tuhan, dengan ucapan syukur Mengapa kita harus memiliki kesadaran sendiri untuk mempraktikkan kebenaran ini? Mengapa kita bisa rela untuk melakukan Firman Tuhan? Ayat. 7-9 Sebab tidak ada seorang pun diantara kita, yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Kita hidup dan mati untuk Tuhan, jadi baik hidup atau mati adalah MILIK TUHAN. Maka dari itu, Kristus Yesus telah mati dan hidup kembali, supaya IA menjadi Tuhan baik atas orang mati maupun hidup Apa perintah rasuli bagi kita untuk menghidupi kebenaran itu? Ayat. 10-16 Perintah Rasuli adalah tidak membicarakan kelemahan saudara seiman kita, tetapi kita hidup saling menopang. Karena setiap orang akan memberikan pertanggung jawabannya sendiri kepada Allah. Jangan Menghakimi, jangan jadi sandungan, jangan menyakiti saudaramu. Pengajaran Umat Tuhan sering menggembar-gemborkan gosip tentang kelemahan iman saudara-saudari seiman di dalam Yesus. Itulah sebabnya, perintah rasuli adalah agar kita menerima orang-orang yang demikian tanpa mempercakapkan kelemahan iman mereka. Mereka yang kuat imannya justru perlu menopang orang lain yang masih lemah. [CKN – Renungan Kristen]
Dalamnats khotbah Roma 14:1-2, ada masalah jemaat setempat tentang dua garis pemikiran. Satu pihak memahami percaya kepada Kristus semua larangan lama tentang makanan tidak cocok lagi tetapi pada pihak lain ada orang-orang yang berpegang pada banyak peraturan-peratuan dan mereka percaya tidak dibenarkan untuk makan daging tetapi hanya makan sayuran saja/vegetables.
Minggu Paskah – Perjamuan Kudus Stola Putih Bacaan 1 Keluaran 14 10 – 31 Bacaan 2 Roma 6 3 – 11 Bacaan 3 Lukas 24 1 – 12 Tema Liturgis Kebangkitan Kristus Menumbuhkan Harapan dan Keberanian Tema Khotbah Jangan Pernah Meragukan Kebangkitan Kristus! Penjelasan Teks Bacaan Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah Keluaran 14 10 – 31 Bangsa Israel telah menyaksikan penghukuman Tuhan Allah kepada bangsa Mesir berupa 10 tulah dan mereka telah diselamatkan Tuhan Allah dari tuluh-tulah tersebut. Meskipun demikian, bangsa Israel belum sepenuhnya percaya dan mengandalkan hidup mereka kepada Tuhan Allah. Iman mereka masih diwarnai dengan keragu-raguan. Itulah mengapa Tuhan Allah mengeraskan hati Firaun dan segera mengejar bangsa Israel yang telah keluar dari Mesir Ayat 4, 8, 17. Tuhan Allah membuat Firaun menyesal mengijinkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Firaun mengejar mereka dengan harapan dia dapat menangkap dan mengembalikan mereka sebagai budak di Mesir. Disinilah Tuhan Allah sekali lagi menyatakan kuasa-Nya kepada bangsa Israel. Dia menolong dan menyelamatkan bangsa Israel dari kejaran Firaun dan tentara Mesir. Tuhan Allah menunjukkan kuasa-Nya dan melindungi bangsa Israel dengan tiang awan yang gelap sehingga menghalangi Firaun dan tentara Mesir yang telah mendekati mereka Ay. 19-20. Kemudian Tuhan Allah membelah laut Teberau menjadi dua, sehingga bangsa Israel dapat menyeberangi laut Teberau itu dengan selamat Ay. 21-22. Pada akhirnya Tuhan Allah membinasakan Firaun dan seluruh tentara Mesir dengan cara menenggelamkan mereka di dasar laut Ay. 28. Kesemua hal yang dilakukan oleh Tuhan Allah itu adalah untuk menyatakan Diri-Nya kepada bangsa Israel agar mereka sungguh-sungguh percaya dan menyembah kepada Tuhan Allah saja. Bangsa Israel tidak lagi mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri, tetapi lebih mengandalkan Tuhan Allah yang berkuasa atas hidup mereka. Roma 6 3 – 11 Ada sebagian pengikut Kristus di kota Roma yang seringkali menyalahartikan kasih karunia Allah dalam hidup mereka. Mereka berpandangan bahwa dengan kasih karunia Allah yang melimpah, manusia dapat berbuat dosa dan kejahatan sesuka hati mereka. Menurut pemahaman mereka, jika mereka bersalah dan berbuat dosa, mereka cukup berdoa memohon pengampunan dosa kepada Allah, dan pasti Allah akan mengampuni dosa mereka. Tentulah hal yang demikian tidak dapat dibenarkan. Disinilah Rasul Paulus meluruskan pandangan semacam itu kepada jemaat di Roma. Dia menjelaskan bahwa setiap orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, dia harus menjadi manusia baru sebab dosa sudah tidak menguasai hidupnya lagi Ay. 2, 11. Paulus menjelaskan kepada jemaat Roma, sebagai umat percaya, mereka telah dipersatukan di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus Ay. 5. Oleh karena itu, mereka harus mematikan perbuatan-perbuatan dosa, tidak lagi menghambakan diri pada perbuatan dosa, dan hidup benar dihadapan Allah Ay. 6. Paulus juga menjelaskan tentang makna baptisan, yaitu mati dan bangkit bersama Yesus Ay. 3-4. Artinya sebagai umat percaya, jemaat Roma ikut dalam kematian Yesus. Hidup mereka telah ditebus oleh Kristus dan dosa telah dikalahkan melalui kuasa salib Yesus Kristus Ay. 6-7. Mereka kini memiliki kehidupan baru di dalam Kristus, yaitu hidup kekal melalui kebangkitan-Nya Ay. 8-11. Kristus telah mati satu kali untuk menebus dosa-dosa manusia dan memulihkan hubungan antara manusia dan Allah yang rusak. Melalui kematian-Nya, setiap umat percaya, hidup untuk memuliakan Allah, karena mereka telah dibebaskan dari kuasa dosa dan memiliki hidup kekal bersama Kristus Yesus. Lukas 24 1 – 12 Injil Lukas 241-12 menceritakan kesaksian tentang kebangkitan Yesus Kristus. Dikisahkan pada pagi-pagi benar sebelum fajar terbit, pada hari ketiga setelah kematian Yesus, para perempuan Maria dari Magdala, Yohana, Maria ibu Yakobus dan beberapa perempuan lain datang ke kubur Yesus dengan maksud untuk memberi rempah-rempah pada mayat Yesus Ay. 1. Ketika mereka sampai kubur Yesus, didapati oleh mereka, batu penutup kubur sudah terguling Ay. 2. Segera mereka masuk ke dalam kubur itu, namun mereka tidak menemukan mayat Yesus di dalam kubur itu Ay. 3. Kubur Yesus telah kosong. Hilangnya mayat Yesus, menimbulkan berbagai pikiran yang muncul dalam benak mereka. Di saat mereka mengalami kebingungan itu, tiba-tiba berdirilah dua malaikat Tuhan menyapa mereka, bertanya kepada para perempuan itu mengapa mereka ketakutan dan menundukkan kepala? Hal ini terjadi karena mereka masih merasakan dukacita dan kesedihan yang mendalam dengan peristiwa penyaliban dan kematian Tuhan Yesus, terlebih saat mayat Tuhan Yesus yang mereka cintai hilang, tidak dapat mereka jumpai. Kemudian kedua malaikat Tuhan itu memberitahukan kepada mereka, bahwa Tuhan Yesus telah bangkit. Dia telah hidup kembali, sebagaimana Dia pernah nyatakan kepada para murid-Nya ketika Dia masih ada bersama mereka. Malaikat Tuhan itu mengatakan bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari ketiga Ay. 7. Mendengar perkataan Malaikat Tuhan itu, para perempuan itu teringat pada perkataan Tuhan Yesus. Mereka sadar bahwa Tuhan Yesus telah bangkit Ay. 8. Mereka percaya dengan kebangkitan Tuhan Yesus dan segera mereka beritakan kebangkitan Tuhan Yesus kepada para murid yang lainnya Ay. 10. Disini ada perubahan suasana batin dari para perempuan itu, dari mereka yang berduka dan bersedih menjadi bersukacita dan bergembira, oleh karena kebangkitan Kristus. Mereka memiliki semangat hidup kembali dan segera memberitahukan berita kebangkitan Yesus Kristus kepada pada murid yang lain. Bagaimana reaksi para murid mendengar berita kebangkitan Yesus? Mereka tidak percaya dan menganggap bahwa kesaksian para perempuan itu hanya sebagai omong kosong belaka Ay. 11. Hanya Petrus yang bergegas berlari cepat untuk melihat kubur Yesus untuk menyatakan kebenaran cerita kebangkitan Yesus Kristus yang disampaikan oleh para perempuan tadi. Injil Lukas mencatat bahwa Petruspun masih bertanya-tanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi? Ay. 12. Apa yang dialami para murid, yang telah mendengar berita kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hal yang mudah untuk mereka pahami dan mereka terima sebagai sebuah kebenaran. Kedukaan, kesedihan, dan rasa kehilangan yang masih mereka rasakan, membuat mereka sulit untuk mempercayai berita kebangkitan Yesus Kristus yang disampaikan oleh para perempuan itu. Benang Merah Tiga Bacaan Keraguan seringkali dialami oleh manusia. Kisah bangsa Israel yang meragukan Allah yang telah membebaskan mereka dari tanah Mesir. Kisah para murid Tuhan Yesus yang meragukan berita kebangkitan Tuhan Yesus yang disampaikan oleh para perempuan, menunjukkan bahwa keragu-raguan seringkali terjadi, karena manusia hanya mengandalkan pengertian dan kekuatan dirinya sendiri. Nyatanya kasih dan kuasa Allah tetap dinyatakan. Karya keselamatan Allah tetap terjadi sekalipun ada keraguan di hati bangsa Israel dan para murid Yesus. Untuk itu Paulus menguatkan agar umat percaya hidup dalam kasih karunia Allah. Artinya tidak ada lagi kebimbangan dan keraguan kepada Tuhan sebab melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, setiap umat percaya mendapatkan penebusan dan pengampunan dosa. Hubungan dengan Allah dipulihkan kembali dan umat percaya mendapatkan kasih karunia Allah, yaitu keselamatan dan hidup kekal di dalam Yesus Kristus. Rancangan Khotbah Bahasa Indonesia Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing Pendahuluan Dalam keberadaan dan kebersamaan kita dengan orang lain di sekitar kita, tentunya ada banyak berita yang kita dengarkan. Ada berita baik, ada juga berita buruk. Terlebih di era saat ini, era informasi teknologi IT, kita dengan mudah mendapatkan berita dari berbagai sumber, baik dari televisi, radio, internet, media sosial, dll. Dari banyaknya berita tadi, bukan tidak mungkin ada banyak berita bohong HOAK yang kita dengar. Orang dengan mudah dan cepat mengirimkan, meneruskan berita bohong tersebut tanpa menyaring atau mengecek kebenaran berita tersebut terlebih dahulu. Akibatnya banyak orang yang terhasut dan percaya dengan berita bohong HOAX tersebut. Orang sulit untuk membedakan mana berita yang benar dan mana berita bohong yang menyesatkan. Kenyataan yang demikian, juga bisa terjadi di tengah-tengah komunitas umat percaya/ gereja. Persekutuan orang percaya yang harusnya diwarnai dengan cinta kasih, ketulusan, dan kebenaran dapat berubah menjadi persekutuan yang diwarnai dengan rasa iri hati, curiga, amarah, benci, dan perselisihan yang disebabkan oleh berita bohong HOAK yang ada di tengah kehidupan jemaat. Umat percaya yang seharusnya berkata benar dan menyatakan tentang kebenaran karya kasih Allah, ikut terpengaruh oleh perubahan jaman, sehingga menyebabkan mereka hidup menuruti kesenangan dan keinginan diri mereka saja. Inilah yang harus selalu kita waspada, tidak seharusnya kita terpengaruh dan ikut memberitakan kebohongan, sebaliknya kita diajak untuk berani berkata benar, berani memberitakan kebenaran karya kasih Allah kepada semua orang dengan sepenuh hati. Hanya dengan perkataan benar dan kesaksian yang memuliakan Allah, kita mampu menghadapi dan mengatasi kehidupan yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan saat ini. Isi Inti cerita bacaan 1 dan bacaan 3 memiliki kesamaan kisah, yaitu tentang keragu-raguan bangsa Israel dan para murid akan kuasa Allah dan kebangkitan Kristus. Bacaan 1 Keluaran 1410-31 mengisahkan pembebasan bangsa Israel dari Mesir. Tuhan Allah telah mendengar keluh kesah bangsa Israel yang ditindas bangsa Mesir, kemudian Tuhan Allah mengutus Musa untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Cara Allah membebaskan umat-Nya adalah dengan menghukum bangsa Mesir melalui 10 tulah. Pada tulah yang kesepuluh, kematian anak sulung, pada akhirnya membuat Firaun melepaskan bangsa Israel keluar dari Mesir. Keluarnya bangsa Israel dari Mesir tidak serta merta membuat bangsa Israel percaya kepada Tuhan Allah yang telah membebaskan mereka. Masih ada keragu-raguan di hati mereka tentang kuasa dan penyertaan Allah kepada mereka. Oleh karena itu, Allah menyatakan kembali kuasa-Nya melalui pertolongan-Nya. Allah menghalangi Firaun dan tentara Mesir yang mengejar bangsa Israel dengan tiang awan gelap, sehingga menghalangi perjalanan Firaun dan tentaranya untuk sementara waktu. Allah juga membuatkan jalan bagi bangsa Israel menyeberangi laut Teberau. Laut Teberau perpecah menjadi dua, kemudian bangsa Israel dapat berjalan di tengah-tengah tanah laut Teberau yang sudah kering. Sesaat kemudian bangsa Mesir mengejar mereka, sekali lagi Allah menyatakan kuasa-Nya, Dia membinasakan Firaun dan tentara Mesir dengan cara menenggelamkan mereka di tengah-tengah laut Teberau. Hal ini diperbuat Allah agar bangsa Israel sungguh-sungguh percaya dan menyembah hanya kepada-Nya. Tidak ragu-ragu atau bimbang namun sungguh-sungguh percaya. Pada kisah kebangkitan Yesus, Injil Lukas mengisahkan keraguan para murid Tuhan Yesus yang mendengarkan berita kebangkitan Tuhan Yesus dari para perempuan yang menyaksikan peristiwa kebangkitan itu. Para murid lupa dengan perkataan Tuhan Yesus bahwa Dia akan menderita sengsara, mati, dan bangkit kembali pada hari yang ketiga. Peristiwa kematian Yesus membuat mereka mengalami kedukaan dan kesedihan yang mendalam, yang membuat mereka putus asa, kehilangan semangat, dan pengharapan. Sekalipun para perempuan yang menyaksikan kebangkitan Tuhan Yesus telah bercerita dan memberitakan kebangkitan Tuhan Yesus, hal itu tidak membuat para murid percaya. Petrus pun segera berlari ke kubur Yesus untuk membuktikan kebenaran berita kebangkitan Tuhan Yesus itu. Namun saat dia sudah melihat kubur Tuhan Yesus yang kosong, hal ini tidak serta merta membuatnya percaya. Petrus masih mempertanyakan dalam dirinya tentang apa yang sedang terjadi. Pada perikop-perikop berikutnya mengisahkan tentang penampakan Tuhan Yesus kepada para murid. Tuhan Yesus tidak mengharapkan para murid mengalami keragu-raguan dan kebimbangan. Melalui kebangkitan dan penampakan-Nya kepada para murid, Tuhan Yesus menunjukkan kuasa-Nya dan membuat para murid percaya akan kebangkitan dan kuasa-Nya. Kebangkitan Tuhan Yesus merubah kehidupan para murid, dari mereka yang hidup dalam ketakutan, keraguan, dan kebimbangan menjadi para murid yang pemberani, bersemangat, dan penuh sukacita dalam melayani dan memberitakan tentang Kristus. Hal ini pula yang tampak dalam diri Rasul Paulus. Melalui suratnya kepada jemaat Roma, Paulus menguatkan jemaat Roma untuk tidak menyalahgunakan kasih karunia Allah dengan hidup dalam dosa. Paulus mengingatkan jemaat Roma bahwa mereka adalah umat tebusan, mereka telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, hendaknya mereka tidak lagi hidup di dalam dosa mereka, melainkan hidup benar dan kudus dihadapan Tuhan Allah. Kebangkitan Kristus memberikan pengharapan akan janji Allah, ada keselamatan dan hidup yang kekal di dalam Kristus. Penutup Hari ini adalah hari Paskah. Hari kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Kuasa maut telah dikalahkan dan kita yang percaya diberikan anugerah keselamatan dan hidup kekal. Tuhan Allah telah menyatakan kuasa melalui kebangkitan Yesus Kristus. Lantas apakah yang dapat kita perbuat di masa Paskah ini? Apakah yang dapat kita refleksikan dari peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus bagi kehidupan kita? Firman Tuhan pada Minggu Paskah saat ini mengajarkan jangan pernah kita meragukan kebangkitan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Tuhan Yesus sudah bangkit, Dia telah hidup dan para murid telah menyaksikannya. Jika ada keraguan dalam diri kita, patut kiranya kita menguji diri kita, ”Apakah yang menyebabkan kita meragukan kebangkitan Tuhan Yesus? Apakah persoalan atau pergumulan hidup yang berat atau hal yang lainnya?” Tentu setiap orang memiliki jawabannya masing-masing. Tetapi yang perlu kita ingat karya kasih Allah senantiasa menyertai dalam setiap dinamika kehidupan kita. Ada upaya yang dapat kita lakukan agar kita selalu percaya dan tidak ragu-ragu dalam mengikut Yesus Melekat erat kepada Tuhan Kita mau mendengar kehendak dan janji Tuhan melalui perenungan secara pribadi, maupun bersama dengan jemaat. Kita mau mengingat kehendak dan janji Tuhan itu, sebab kehendak dan janji Tuhan adalah jaminan kehidupan bagi kita. Dengan mengingat Firman Tuhan, kita tahu bahwa karya dan penyertaan Tuhan senantiasa nyata bagi kita. Dengan melekat erat pada Tuhan kita mengetahui kehendak dan janji Tuhan, yang kita yakini Tuhan setia menyertai dan menolong kita di dalam setiap persoalan atau pergumulan yang kita alami. Fokus hidup kita tertuju kepada Tuhan semata bukan hanya melihat masalah dan kesulitan saja. Pada situasi pandemi Covid-19 yang belum selesai saat ini, kita melihat banyak orang kehilangan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai. Namun jangan biarkan perasaan sedih, duka yang berlarut-larut mengusai kita. Tetaplah memandang Kristus yang telah bangkit dan hidup. Yakinilah ada kehidupan setelah kematian. Demikian bagi kita yang masih hidup, tetaplah memandang Kristus yang bangkit dan menang, Kristus yang akan mempersatukan kita sebagai anggota Kerajaan Allah. Tetaplah bertekun mencari kehendak Tuhan dalam hidup kita. Kemelekatan diri kita pada Tuhan akan memampukan kita mengerti dan memahami kehendak dan rancangan Allah yang terbaik bagi kita. Meyakini Allah senantiasa berkarya dalam hidup kita Peristiwa pembebasan bangsa Israel dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti Tuhan Allah senantiasa berkarya dan menyelamatkan manusia di sepanjang kehidupan manusia. Pun demikian halnya pada kehidupan kita saat ini. Di tengah badai pandemi Covid-19, tetaplah percaya dan menyakini Allah selalu berkarya dalam hidup kita. Karya Allah itu dinyatakan melalui pertolongan para tenaga medis yang merawat kita yang terpapar Covid-19, kepedulian tetangga kita yang ikut membantu kebutuhan sehari-hari pada saat kita isolasi mandiri, penguatan dan doa dari saudara seiman, yang tetap memberikan semangat dan kekuatan bagi kita di masa-masa saat ini. Oleh karena itu teruslah meyakini bahwa Allah berkarya dalam hidup kita. Kebangkitan Kristus menjadi sukacita bagi kita, yang mampu mengubahkan duka menjadi suka. Kebangkitan Kristus membawa harapan akan kasih setia Tuhan yang tiada berkesudahan. Mari kita rayakan Paskah saat ini dengan sukacita, percayalah dalam kebangkitan Kristus ada hidup. Selamat Paskah. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin. [AR]. Pujian KJ. 188 1, 2 Kristus Bangkit! Soraklah — Rancangan Khotbah Basa Jawi Pambuka Salebeting gesang kita sesrawungan kaliyan sesami, tamtunipun kita asring mirengaken berita, sae punika berita ingkang endah utawi berita ingkang awon. Langkung-langkung ing jaman sapunika, ing jaman informasi teknologi IT, kita saged pikantuk berita kanthi gampil saking mawerni-werni sumber, kados saking tv, radio, internet, media sosial, lsp. Saking berita ingkang kita tampi punika ugi wonten berita ingkang apus-apus ngapusi/ HOAK. Tiyang samangke gampil anggenipun nyebar lan ngirimaken berita HOAX punika, tanpa nyaring utawi dipun cek rumiyin berita punika leres punapa boten kasunyatanipun. Akibatipun kathah tiyang pitados berita HOAX punika. Tiyang ewet anggenipun bentenaken pundi berita ingkang leres lan pundi berita ingkang apus-apus punika. Kasunyatan ingkang kados mekaten punika saged kedadosan wonten ing satengah-tengahing pasamuwan/ greja. Patunggilaning tiyang pitados ingkang kebak katresnan, katulusan, lan kayekten saged dados patunggilan ingkang kebak raos iri, curiga, nesu, benci, lan padu karana berita HOAX ingkang wonten ing satengah-tengahing pasamuwan. Para umat pitados ingkang kedahipun martosaken kayekten lan pakaryaning Gusti Allah saged tumut ing pengaruh jaman punika, saengga dadosaken tiyang punika namung nuruti seneng lan pepenginanipun piyambak. Awit saking punika kita kedah waspada, sampun ngantos kita tumut pengaruhing jaman punika, tumut martosaken berita HOAX. Prayogi menawi kita wantun martosaken kayekten, wantun martosaken pakaryan lan sih rahmating Gusti Allah dhateng sedaya tiyang kanthi tulus. Awit saking paseksi lan pangucap kita ingkang leres bab Gusti Allah, kita saged ngadepi gesang ingkang kebak berita hoak ing wekdal punika. Isi Saking waosan 1 lan waosan 3 kita saged manggihaken cariyos ingkang sami, inggih punika bangsa Israel lan para sakabatipun Gusti Yesus ingkang sami mangu-mangu bab panguawosipun Gusti Allah lan wungunipun Gusti Yesus Kristus. Waosan 1 Pangentasan 1410-31 nyariosaken pangentasaning bangsa Israel saking Mesir. Gusti Allah ngutus nabi Musa kangge ngentasaken bangsa Israel ingkang dipun tindes bangsa Mesir. Gusti Allah ngukum bangsa Mesir srana 10 wewalak kangge ngentasaken bangsa Israel. Saking wewalak ingkang kaping sedasa, pejahipun anak mbarep, dadosaken Firaun Ratu Mesir ngeculaken bangsa Isarel saking Mesir. Medhalipun bangsa Israel saking Mesir boten langsung dadosaken bangsa Israel pitados dhumateng Gusti Allah ingkang sampun paring pitulungan. Bangsa Israel taksih rumaos mangu-mangu dhateng panguwaos lan panganthinipun Gusti Allah. Awit saking punika, Gusti Allah nedahaken pitulunganipun malih. Gusti Allah ngalangi Firaun lan tentara Mesir ingkang nguber bangsa Israel kaliyan tiang mega ingkang peteng sanget. Kaping kalihipun, Gusti Allah damelaken margi kangge bangsa Israel nyabrang segara Tiberau. Segara Tiberau kapecah dados kalih, lajeng bangsa Israel mlampah ing satengah-tengahing siti segara Tiberau ingkang sampun asat punika. Selajengipun nalika bangsa Mesir wonten satengah-tengahing seganten Tiberau, Gusti Allah nutup malih seganten punika, saengga Firaun lan para tentara Mesir sami mati kagulung seganten punika. Bab punika dipun agem Gusti Allah supados bangsa Israel temen-temen pitados lan nyembah namung dhumateng Gusti Allah. Bangsa Israel boten mangu-mangu malih, nanging temen anggenipun pitados. Injil Lukas nyariosaken raos mangu-mangunipun para sakabat nalika mireng berita wungunipun Gusti Yesus saking para tiyang estri ingkang nyekseni bab wungunipun Gusti Yesus punika. Para sakabat sami kesupen punapa ingkang dados Pangandikanipun Gusti Yesus, bilih Panjenenganipun badhe nandhang kasangsaran, pejah, lan wungu malih ing tigang dintenipun. Pejahipun Gusti Yesus dadosaken para sakabat ngraosaken kasedihan lan kasisahan ingkang sanget, ingkang dadosaken semplah, kecalan semangat lan pengajeng-ajeng. Sanajan para tiyang estri sampun nyariosaken lan martosaken wungunipun Gusti Yesus, bab punika boten dadosaken para sakabat pitados. Petrus enggal-enggal mlajeng dhateng kuburipun Gusti Yesus, saperlu buktiaken pawartos wungunipun Gusti Yesus punika. Nalika Petrus ningali kubur Gusti Yesus ingkang suwung, piyambakipun boten enggal pitados. Piyambakipun taksih mangu-mangu, punapa ingkang sampun kedadosan? Ing perikop-perikop selajengipun nyariosaken Gusti Yesus ngetingal dhateng para sakabatipun. Gusti Yesus ngersaaken para sakabatipun boten mangu-mangu malih. Lumantar wungu lan ngetingalipun Gusti Yesus dhateng para sakabat, Gusti Yesus nedahaken panguwaosipun ingkang dadosaken para sakabat pitados dhateng panguwaosipun Gusti Yesus. Wungunipun Gusti Yesus ngrubah cara pandeng para sakabat, saking para sakabat ingkang ajrih, mangu-mangu, sumelang, dados para sakabat ingkang wantun, semangat, lan kebak kabingahan nalika lelados lan martosaken Gusti Yesus. Bab punika ugi ingkang dipun raosaken dening Rasul Paulus. Lumantar seratipun dhumateng pasamuwan Rum, Paulus paring kakiyatan dhateng warga pasamuwan Rum supados boten migunaaken sih rahmating Allah sarana tumindak dosa. Paulus ngengetaken warga pasamuwan Rum bilih piyambakipun sampun katebus dening Gusti Yesus saking dosa. Pasamuwan Rum sampun nampi kawilujengan lantaran pejah lan wungunipun Gusti Yesus. Awit saking punika pasamuwan Rum boten kenging gesang ing dosa malih, nanging kedah gesang suci lan leres wonten ngarsanipun Gusti Allah. Gusti Yesus ingkang sampun wungu maringi janji, wonten kawilujengan lan gesang langgeng kangge umat ingkang pitados. Panutup Dinten punika dinten Paskah. Dinten wungunipun Gusti Yesus. Kuwaosing pati sampun kawon lan kita para pitados kaparingan kawilujengan lan gesang langgeng. Gusti Allah sampun nedahaken panguwaosipun lumantar wungunipun Gusti Yesus Kristus. Lajeng punapa ingkang saged kita tindakaken ing mangsa Paskah punika? Punapa ingkang saged dados refleksi kita saking wungunipun Gusti Yesus punika? Pangandikanipun Gusti ing Minggu Paskah punika paring piwulang sampun ngantos kita mangu-mangu bab wungunipun Gusti Yesus salebeting gesang kita. Gusti Yesus sampun wungu. Panjenenganipun sampun gesang lan para sakabat sampun nyekseni bab punika. Sapunika bilih kita taksih mangu-mangu, mangga kita sami dadar manah kita piyambak-piyambak, “Punapa ingkang dadosaken kita punika mangu-mangu ing bab wungunipun Gusti Yesus? Punapa taksih wonten reribet lan pakewed ingkang awrat salebeting gesang kita?” Tamtunipun saben tiyang nggadahi wangsulanipun piyambak-piyambak, ingkang kedah kita enget inggih punika pakaryan lan sih katresnanipun Gusti Allah tansah nunggil gesang kita. Supados kita tansah pitados lan boten mangu-mangu anggenipun nderek Gusti Yesus, kita saged ngupaya tumindak Rumaket dhumateng Gusti Kita purun mirengaken karsa lan janjinipun Gusti dhumeteng kita. Kita purun gegilut lan ngraos-raosaken sabda-Nipun Gusti sacara pribadi utawi sesarengan warga pasamuwan. Mekaten ugi kita tansah ngenget-enget karsa lan janjinipun Gusti punika, awit karsa lan janjinipun Gusti punika dados jaminan gesang kita. Srana ngenget-enget Sabdanipun Gusti, kita saged mangertos bilih Gusti Allah tansah makarya lan nganthi gesang kita. Srana rumaket dhumateng Gusti, kita mangertos karsa lan janjinipun Gusti ingkang pasti kangge kita. Kita yakin bilih Gusti Allah tansah setya, nunggil lan nulungi kita ngadepi sedaya prekawis gesang kita. Mangga sami fokus namung dhumateng Gusti Allah kemawon, boten fokus dhateng masalah lan pakeweding gesang kita. Salebeting pageblug Covid-19 ingkang dereng rampung ngantos dinten punika, kita saged ningali kathah tiyang ingkang kecalan brayat ingkang dipun tresnani. Nanging sampun ngantos kita dumawah ing raos sedih, kecalan ingkang terus-terusan. Mangga kita tansah mandheng Gusti Yesus Kristus ingkang sampun wungu lan gesang. Kita pitados bilih wonten gesang sak sampunipun pati. Kangge kita ingkang taksih kaparingan gesang, mangga kita tansah mandeng Gusti Yesus ingkang sampun nunggilaken kita, minangka anggota krajan sorga. Mangga tetep temen anggen kita ngupados karsanipun Gusti salebeting gesang kita. Kita ingkang tansah rumaket dhumeteng Gusti Allah, kita badhe mangertos lan paham bilih sedaya karsa lan rancanganipun Gusti Allah punika sae kangge kita. Pitados Gusti Allah tansah makarya ing gesang kita Cariyos pangentasaning bangsa Israel lan wungunipun Gusti Yesus dados bukti kados pundi anggenipun Gusti Allah makarya lan paring kawilujengan kangge manungga salebeting gesangipun. Mekaten ugi ngantos wekdal sapunika. Ing satengah-tengahing prahara pagebluk Covid-19, mangga sami pitados bilih Gusti Allah tansah makarya ing gesang kita. Pakaryanipun Gusti Allah punika nyata, kados para tenaga medis ingkang nulungi tiyang ingkang kenging Covid-19, para tetanggi ingkang peduli lan purun mbantu kabetahan kita sadinten-dinten nalika kita kedah isolasi mandiri. Mekaten ugi para sederek kita tunggil iman ingkang ngiyataken lan ngipur kita, ngadepi mangsa ingkang ewet punika. Karana punika, swawi kita tansah pitados bilih Gusti Allah makarya salebeting gesang kita. Wungunipun Gusti Yesus dados kabingahan kangge kita, ingkang saged ngrubah kasedihan kita dados kabingahan. Wungunipun Gusti Yesus beta pengajeng-ajeng, sih katresnan lan kasetyanipun Gusti Allah ingkang tanpa winates dhateng kita. Sumangga kita lumebet ing pangharyan Paskah dinten punika kanthi suka bingah, kita tansah pitados Gusti Yesus ingkang sampun wungu tansah paring gesang dhateng kita. Sugeng Paskah. Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [AR]. Pamuji KPJ. 267 1, 2 Pamarta Kula Agesang
- Дуцузխкуре саդቫцэзеጥу ктаጨረжሞв
- Նአժижըсни χεскиն ոвсጶμоη
Berikutadalah khotbah Jumat renungan hidup Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 2022 yang membahas pentingnya hijrah dan peningkatan kualitas ketakwaan. Di mana hal tersebut ditulis oleh KH Ade Muzaini Aziz yang merupakan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dan Pengasuh Perguruan Al Mu'in Tangerang Banten. Baca Juga: Teks Khotbah Jumat Singkat
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Roma8:8-11 Hidup Dalam Roh Tuhan. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Nas ini hendak menghantar kita untuk mengingatkan dan mendalami kembali akan maksud dari "hidup".
Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan tidak boleh menjadi batu sandungan bagi sesamanya di ayat 13 s/d 18, maka apa yang harus kita lakukan kemudian? Pada 5 ayat terakhir yaitu di ayat 19 s/d 23, Paulus menjelaskan bagaimana anak Tuhan hidup menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun tanpa meributkan hal-hal sekunder, misalnya tentang ayat pembahasan mengenai hidup dalam damai sejahtera itu dimulai di ayat 19, di mana ia menyimpulkan ayat sebelumnya dan memulai pengajaran baru yang menjadi dasar penjelasannya di ayat berikutnya, “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” “Sebab itu” menunjukkan lanjutan dari ayat 18 dan suatu kesimpulan dari ayat sebelumnya. Jika di ayat 18, kita belajar bahwa dengan kita tidak menjerumuskan orang lain ke dalam dosa, kita berkenan kepada Allah dan dihormati manusia, maka di ayat 19, Paulus mengingatkan jemaat Roma kembali mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera bdk. Rm. 1218. Kata kerja “mengejar” dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif dan present. Berarti, sebagai umat Tuhan, kita dituntut untuk secara aktif terus-menerus mengejar sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera. Penulis Surat Ibrani mengajarkan hal yang sama, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” Ibr. 1214 Dengan demikian, setiap anak Tuhan dituntut untuk mengejar hidup damai dengan semua orang. Damai sejahtera seperti apa? Kembali, Paulus telah menguraikannya di ayat sebelumnya, yaitu ayat 17 yaitu damai sejahtera yang didahului oleh kebenaran keadilan dan disertai dengan sukacita yang kesemuanya dikerjakan oleh Roh Kudus di dalam Kerajaan Allah. Berarti, ada pembatasan arti damai sejahtera yang Paulus ingin ajarkan, yaitu berkaitan dengan kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan berakhir dengan Kerajaan Allah. Memisahkan dan meredefinisi damai sejahtera di luar hal-hal tersebut bukanlah damai sejahtera yang diajarkan Alkitab! Dalam mengejar damai sejahtera itu, kita tetap harus mempertimbangkan aspek kebenaran keadilan, sukacita, Roh Kudus, dan Kerajaan Allah, sehingga di dalam proses mengejar itu, kita tidak berkompromi terhadap dosa. Di dunia postmodern, damai sejahtera sudah menjadi bahan obralan yang dijual murahan. Damai sejahtera TIDAK lagi dimengerti berkaitan dengan kebenaran keadilan apalagi Kerajaan Allah. Para pemimpin gereja arus utama mempromosikan damai sejahtera berbeda dari apa yang diajarkan Alkitab. Ide utama mereka adalah ide humanis atheis yang antroposentris, ujung-ujungnya kompromi iman, lalu mengajarkan secara eksplisit maupun implisit bahwa semua agama itu sama saja. Ketika dunia menawarkan konsep damai sejahtera palsu, Alkitab mengajarkan damai sejahtera yang berkaitan dengan Kerajaan Allah yang tentu TIDAK mengenal kompromi. Damai sejahtera sejati TIDAK berkompromi dengan dosa sedikitpun bdk. Ibr. 1214 di atas. Itulah yang harus kita kejar terus-menerus di dalam hidup kita. Bagaimana menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengompromikan dosa mereka?! Ketika kita menegur dosa mereka, itu TIDAK berarti kita menjadi damai sejahtera bagi mereka. Justru, ketika kita menegur dosa mereka dengan kasih disertai kebenaran Allah, kita sebenarnya mendatangkan damai sejahtera bagi mereka, sehingga mereka merasakan damai sejahtera Kristus yang mengoreksi dan mengakibatkan mereka bertobat oleh karya aktif Roh Kudus. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadi alat perdamaian bagi sesama kita TANPA mengkompromikan dosa dan iman kita?!Kita bukan hanya menjadi alat perdamaian, tetapi Paulus juga mengajar kita untuk saling membangun. King James Version KJV menerjemahkan, “one may edify another” =seorang dapat mengajar orang lain. New International Version NIV menerjemahkan, “and to mutual edification” =dan kepada pengajaran satu sama lain. Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah, “pembinaan.” Hasan Sutanto, 2003, Perjanjian Baru Interlinear, hlm. 871 Dari struktur bahasa Yunani, kata ini sebenarnya bukan kata kerja, tetapi kata benda. Kata benda ini disejajarkan dengan kata sebelumnya yaitu “damai sejahtera” yang juga merupakan kata benda paralelisme. Dengan kata lain, ayat 19 ini dapat diterjemahkan, “Karena itu, marilah kita mengejar hal-hal dari damai sejahtera dan hal-hal pembinaan satu sama lain.” Dari sini, kita belajar bahwa kita bukan hanya menjadi alat perdamaian saja, tetapi kita dituntut untuk saling memberi pengajaran. Perdamaian harus disertai dengan pengajaran satu sama lain. Di sini, kembali, Paulus TIDAK memisahkan perdamaian dari pengajaran. Kalau orang Kristen abad postmodern dan tidak sedikit pemimpin gereja hari-hari ini memisahkannya, lalu mengajar bahwa doktrin itu tidak penting, yang penting bersatu dan berdamai saja, “dalam Yesus kita bersaudara,” itu jelas tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena Paulus sendiri mengajar bahwa kita tetap perlu mengejar hal-hal damai sejahtera dan juga pengajaran satu sama lain. Mengapa Paulus mengaitkan dua hal ini? Karena damai sejahtera tanpa disertai pengajaran satu sama lain bisa berakibat fatal. Artinya, damai sejahtera tanpa pengajaran akan menjadi suatu perasaan damai sejahtera yang tidak ada dasarnya dan bahkan bisa menipu dan menyesatkan, yang tidak ada bedanya seperti konsep “damai sejahtera” ala postmodern. Lalu, pengajaran itu bukan satu arah sifatnya, tetapi dua arah perhatikan kata “saling” atau mutual. Artinya, kita sama-sama belajar dan mengajar sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga tidak ada waktu bagi kita untuk meributkan hal-hal yang tidak penting. Ketika gereja-gereja Tuhan bersama-sama dengan rendah hati mau belajar bersama-sama akan kebenaran firman Tuhan, maka kita dapat bersatu memperluas Kerajaan Allah dengan kebenaran firman-Nya Sola Scriptura. Tetapi sayangnya, banyak gereja sudah stagnan dan tidak mau lagi terbuka untuk bersama-sama belajar firman Tuhan dengan segudang argumentasi, misalnya, “doktrin tidak penting”, “Alkitab belum tentu satu-satu kebenaran, di dalam agama lain juga ada kebenaran”, “jangan menghakimi”, “jangan fanatik”, dan argumentasi “theologis” dan “logis” lainnya yang tidak bertanggungjawab. Mereka lebih memperhatikan hal-hal eksternal ketimbang internal. Mereka lebih memperhatikan megahnya gedung gereja, tuanya sejarah gereja mereka, dan bahkan tua dan kunonya kursi-kursi dan pendeta gereja mereka. Gereja seperti ini sudah mau mati, tetapi tidak pernah sadar. Yang mereka perhatikan adalah hal-hal sekunder dan fana, akibatnya tidak usah heran, di negara-negara Barat, banyak gereja-gereja Protestan arus utama yang dipengaruhi oleh “theologi” liberal baik eksplisit maupun implisit sudah menjadi monumen, yang hanya dikunjungi oleh banyak orang-orang tua, sedangkan banyak orang-orang muda yang melarikan diri ke diskotek, pub, bar, dll. Sudah saatnya, gereja Tuhan BANGKIT. BANGKIT seperti apa? BANGKIT kembali kepada Alkitab, perjuangkan kebenaran firman-Nya, beritakan Injil-Nya, dan bersaksilah bagi kita diingatkan Paulus untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka di ayat 20, ia mengingatkan kembali, “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” Ketika kita sudah mengetahui bagaimana mengejar damai sejahtera dan pembinaan satu sama lain, maka otomatis kita tidak lagi merusakkan pekerjaan Allah hanya karena meributkan hal-hal sepele/sekunder, misalnya makanan. Di sini, Paulus mengaitkan bahwa barangsiapa yang menjerumuskan orang lain ke dalam dosa adalah orang yang merusakkan pekerjaan Allah. Di dalam Kekristenan dewasa ini, hal ini juga tetap berlaku. Jangan hanya karena perbedaan pendapat dalam hal-hal sekunder saja, kita sudah seperti kebakaran jenggot, menantang orang yang berbeda pendapat itu di dalam perdebatan-perdebatan yang sebenarnya membuang waktu. Ketika kita mencoba beradu mulut dan logika dengan mereka yang berbeda pendapat/doktrin di dalam hal-hal sekunder, kita sebenarnya sedang merusakkan pekerjaan Allah, karena kita lebih memperhatikan hal-hal sekunder ketimbang hal-hal primer. Hal ini tidak berarti kita kompromi! Seperti yang sudah saya jelaskan di bagian-bagian eksposisi Roma di pasal sebelumnya, untuk hal-hal sekunder, biarlah kita tetap menghargai, tetapi tidak berarti kompromi, sedangkan untuk hal-hal primer, marilah kita sengit memperjuangkannya dan berani menghadapi para bidat yang memang benar-benar melawan doktrin-doktrin utama iman Kristen. Bagaimana dengan kita? Biarlah kritikan Paulus yang tajam ini juga menjadi refleksi bagi kita yang gemar berdebat tanpa mengerti motivasi, cara, sasaran, dan tujuan debat yang Paulus menjelaskan bahwa segala sesuatu itu suci, tetapi ketika kita membuat orang lain tersandung karena makanan yang kita makannya, maka kita itu celaka/jahat. International Standard Version ISV menerjemahkannya, “Everything is clean, but it is wrong to make another person fall because of what you eat.” =Segala sesuatu itu bersih, tetapi adalah salah untuk membuat orang lain berdosa/jatuh karena apa yang kita makan. KJV menerjemahkan kata “celakalah” sebagai tindakan yang jahat evil. Terjemahan dari bahasa Yunani menggunakan terjemahan yang sama dengan ISV yaitu “salah.” Dengan kata lain, selain merusakkan pekerjaan Allah, orang Kristen yang menjerumuskan orang lain/sesamanya dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah. Mengapa? Karena dia sebenarnya membuat sesamanya tersinggung di dalam hal-hal sekunder, misalnya makanan. Jika diaplikasikan di dalam konteks sekarang, barangsiapa atau “hamba Tuhan” siapa yang berani menjerumuskan jemaat atau orang Kristen dari gereja lain yang berbeda doktrin dengannya ke dalam perasaan bersalah karena tidak mematuhi apa yang dikatakan “hamba Tuhan” ini misalnya, jika tidak dibaptis selam tidak “alkitabiah”, jika tidak bisa berbahasa lidah maka tidak ada “roh kudus”, dll, “hamba Tuhan” ini sebenarnya sedang merusak pekerjaan Allah karena terlalu meributkan hal-hal sekunder ditambah tindakannya ini dapat dikategorikan sebagai tindakan yang salah/jahat/tidak berguna. Bertobatlah jika kita sebagai pelayan Tuhan atau jemaat Kristen suka mengintimidasi orang Kristen lain untuk hal-hal sekunder!Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa hidup dalam damai sejahtera dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain? Paulus memaparkan tiga sikap di dalam ayat 21 s/d 23, yaituPertama, di ayat 21, ia mengajarkan, “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.” Dengan kata lain, supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi sesama kita, kita harus rela tidak makan daging atau minum anggur. Kata kerja “makan” dan “minum” ini di dalam struktur bahasa Yunani menggunakan bentuk aktif. Makan daging dan minum anggur di dalam konteks ayat ini jelas menunjuk kepada sesuatu yang haram yang tidak dimakan oleh orang-orang Yahudi di dalam tradisi mereka. Sedangkan orang-orang non-Yahudi bebas makan dan minum segalanya. Dari sini, Paulus mengajar bahwa sebagai orang-orang Kristen non-Yahudi maupun orang Kristen Yahudi yang sudah mengerti dan tidak mengkategorikan sesuatu sebagai haram dan halal, maka mereka harus rela tidak menyinggung orang Kristen Yahudi yang masih memegang adat istiadat Yahudi tersebut. Di sini, berarti kita harus AKTIF menyangkal diri untuk tidak menuruti apa yang kita mau agar orang lain tidak tersinggung. Ingatlah, semua ini berlaku HANYA bagi orang Kristen saja, tidak bagi orang non-Kristen! Sehingga, jangan sekali-kali memakai ayat ini untuk mendukung orang Kristen dalam menghormati orang non-Kristen yang sedang berpuasa! Itu TIDAK sesuai dengan konteks dan sama sekali TIDAK bertanggungjawab! Di dalam konteks zaman kita, hal ini pun bisa kita aplikasikan. Ketika kita berselisih paham/doktrin dengan orang Kristen lain di dalam hal-hal sekunder misalnya tentang baptisan anak, dll, marilah kita tidak usah terlalu banyak menyinggungnya. Kita boleh menyinggungnya sedikit sambil berdiskusi dengan menggali Alkitab, tetapi jika orang yang kita ajak diskusi tetap bersikukuh menolak baptisan anak, kita tidak perlu memperpanjang dan meributkan masalah tersebut, toh, orang yang menerima atau menolak baptisan anak TIDAK mempengaruhi keselamatan! Mari kita belajar untuk menyangkal diri untuk tidak melampiaskan pengetahuan kita untuk dipaksakan ke orang lain. Belajarlah menahan diri dan berdoalah agar kiranya Roh Kudus mengubah pemikiran doktrinal orang yang kita ajak diskusi di ayat 22, Paulus mengemukakan, “Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.” Analytical-Literal Translation ALT menerjemahkannya, “_You_ have faith? Be having [it] to yourself before God. Happy is the one not judging himself in what he approves [of].” =Kamu memiliki iman? Milikilah itu bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah orang yang tidak menghakimi dirinya sendiri akan apa yang disetujuinya. Dengan kata lain, Paulus mengajarkan bahwa kita pribadi sebagai anak-anak Tuhan disuruh berpegang pada iman kita masing-masing di hadapan Allah dan berbahagialah kita ketika kita tidak menyalahkan diri sendiri atas apa yang kita percayai/setujui itu. Di sini, Paulus tidak kompromi! Ingatlah kembali, seluruh pasal 14 berbicara mengenai hal-hal sekunder, sehingga ketika Paulus mengatakan bahwa biarlah kita pribadi berpegang pada iman masing-masing di hadapan Allah, itu tentu TIDAK menyangkut hal-hal primer, apakah percaya Yesus satu-satunya Tuhan dan Juruselamat atau Yesus itu salah satu Juruselamat saja, tetapi menyangkut hal-hal sekunder konteksnya adalah tentang makanan. Ketika Paulus menguraikan masalah makanan sebagai hal sekunder, di zaman ini, kita juga menghadapi hal serupa. Teguran Paulus mengingatkan kita bahwa kepercayaan/theologi kita apa pun dalam hal sekunder hendaklah kita pegang secara pribadi di hadapan Allah dan janganlah pernah menyalahkan diri karena apa yang telah kita putuskan/imani itu. Hal-hal sekunder tersebut TIDAK menyelamatkan kita, sehingga jangan pernah memaksakan doktrin-doktrin sekunder tersebut kepada orang Kristen lain! Yang perlu kita lakukan adalah berpegang dan mempertanggungjawabkan atas segala sesuatu yang kita di ayat terakhir, 23, ia mengajar, “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.” Poin terakhir agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain yaitu kita melakukan segala sesuatu berdasarkan iman, bukan berdasarkan keputusan orang lain yang mengakibatkan kita bimbang. Kita diperintahkan Paulus untuk TIDAK bimbang dan konsisten. Ketika kita percaya akan doktrin sekunder tertentu, percayalah dan peganglah, serta lakukan. Di dalam konteksnya, ketika ada jemaat Roma yang masih memegang adat istiadat Yahudi yaitu tidak makan makanan yang haram, biarlah mereka melakukannya berdasarkan apa yang dia imani bukan berdasarkan apa yang mereka dengar dari orang lain yang mengakibatkan mereka bimbang. Kebimbangan atau keraguan tersebut justru adalah dosa, karena tidak dilakukan dengan keteguhan hati dan kekonsistenan. Di dalam konteks zaman kita sekarang, ketika ada orang Kristen yang mempercayai baptisan anak, biarkanlah orang itu mempercayainya dan melakukannya berdasarkan imannya. Begitu juga dengan mereka yang menolak baptisan anak, mereka tetap harus mempercayainya dengan bertanggungjawab, lalu melakukannya dengan iman. Biarlah kesemuanya itu dilakukan dengan dasar iman dan pengertian yang bertanggungjawab di hadapan kita merenungkan kelima ayat di atas, sudahkah kita memiliki keterbukaan hati untuk mengejar damai sejahtera dan pembinaan bagi saudara seiman kita yang lain dengan tidak menjerumuskan mereka ke dalam dosa? Allah yang telah membeli anak-anak-Nya melalui darah penebusan Kristus, masa kita merusakkan karya-Nya dengan meributkan hal-hal sepele? Berusalah hidup dalam damai sejahtera dan pengajaran satu sama lain yang TIDAK mengompromikan dosa dan iman. Amin. Soli Deo Gloria.
AyatSH: Roma 14:13-23 Judul: Jangan Menjadi Batu Sandungan Paulus tidak hanya melarang warga jemaat di Roma untuk menghakimi orang lain, berkait dengan keyakinan akan imannya, tetapi melangkah lebih jauh dengan bersikap tidak membuat orang lain tersandung! (17). Konsep pelayanan seperti ini-tidak membuat orang lain jatuh tersandung
Renungan Harian Roma 8 1-17 Kuasa yang Baru Renungan Harian Roma 81-17. Seperti apakah kuasa yang baru ,yang kini kita miliki didalam kehidupan? Apa jaminannya? Bagaimanakah cara Allah menawarkan kuasa yang baru ini didalam kehidupan? ayat 1-4 Kuasa yang baru tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada didalam kuasa Roh Kudus , sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kita dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Maka Allah menawarkan cara mengutus anaknya sendiri dalam daging serupa daging yang dikuasai dosa karena dosa, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi didalam kita yang tak lagi hidup menurut daging namun menurut Roh. Apakah yang menghalangi kita hidup dalam kuasa yang baru ? Cara praktis apakah yang harus kita lakukan untuk hidup dalam kuasa yang baru ?ayat 5-13 Hal yang menghalangi kita hidup dalam kuasa yang baru adalah dalam hal mengelola pikiran-pikiran kita yang sering memikirkan hal-hal daging keinginan daging=maut; keinginan Roh= Damai sejahtera. Maka setiap hari kita harus melatih pikiran kita dengan iman supaya dikuasai oleh Roh. Bagaimanakah cara kita hidup dalam kuasa yang baru ini? ayat 14-17 Hidup selalu dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita pasti memperoleh kesaksian didalam hati bahwa kita adalah Anak Allah dimana kita mewarisi semua janji Tuhan yang tersedia dalam Yesus. PENGAJARAN Tuhan telah menyediakan cara yang ampuh bagi kita berjalan dalam kuasa yang baru didalam kehidupan ini, yakni hidup dalam kuasa Roh Kudus. Roh Kudus memimpin pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang dari Roh, sehingga pemikiran-pemikiran ini akan mendatangkan damai sejahtera Allah didalam hati kita. Ketika dipimpin oleh Roh Kudus, kita pasti memperoleh kesaksian didalam hati bahwa kita adalah anak Allah. Rindu kah kita dipimpin oleh Roh Kudus? Mulailah bertindak dengan iman hari ini. Serahkan diri kita untuk senantiasa hidup didalam kuasa Roh Kudus. “Mencintai seperti Tuhan mencintai, bersukacita seperti Tuhan bersukacita, berdukacita seperti Tuhan berdukacita, membenci seperti Tuhan membenci, berbicara seperti Tuhan berbicara, mencari Tuhan seperti Tuhan mencari, melakukan seperti Tuhan melakukan, dan membiarkan hatiku menjadi seperti hati Tuhan” – Dr. John sung [CKN – Renungan Harian]
LENGKONG AYOBANDUNG.COM --Berikut khotbah Katolik misa Minggu 7 Agustus 2022.Khotbah misa hari Minggu ini diangkat dari kisah Bacaan Injil Lukas 12:32-48 yang mengajarkan kepada kita untuk selalu berwaspada terhadap waktu Tuhan.. Semoga Khotbah Katolik misa Minggu 7 Agustus 2022 ini menyadarkan kita supaya selalu waspada dan bersiap-siap akan kedatangan Tuhan.
LENGKONG, - Khotbah Katolik misa Minggu 14 Agustus 2022 belajar ketaatan dan kerendahan hati dari Bunda Maria. Khotbah Minggu 14 Agustus 2022 diangkat dari kisah Injil Lukas 139-56 tentang Maria mengunjungi Elisabet. Semoga bacaan dan Khotbah Katolik misa Minggu 14 Agustus 2022 dalam Perayaan Maria diangkat ke Surga mengajarkan kepada kita tentang ketaatan dan kerendahan hati Maria. Baca Juga Cara Memasang Set Top Box STB ke TV tabung, LCD hingga LED agar Dapat Siaran TV Digital Maria adalah sosok wanita yang sederhana dan taat selalu hidup dalam takut akan Tuhan. Oleh karena dirinya benar di hadapan Tuhan, dia dipakai Allah untuk menjadi partner karya Keselamatan Allah untuk manusia. Maria menerima kabar dari Allah melalui Malaikat Tuhan, yaitu Gabriel perihal akan mengandung seorang Juru Selamat manusia, yang kemudian dikenal Yesus Kristus. Hari ini gereja merayakan Pesta Maria diangkat ke Surga. Baca Juga Pernikahan Anak Pertama Dengan Kedua Bakal Kaya Raya, Simak Karakter Keduanya Dengan diangkatnya Bunda Maria ke surga, maka ia yang telah bersatu dengan Yesus akan menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini dengan doa-doanya. Karena berpegang bahwa doa orang benar besar kuasanya Yak 516, maka betapa besarlah kuasa doa Bunda Maria yang telah dibenarkan oleh Allah, dengan diangkatnya ke surga. Apa saja teladan Bunda Maria yang perlu kita ikuti? Sikap Bunda Maria yang diajarkan kepada kita, yaitu iman dan ketaatan, selalu bersyukur, rendah hati, kesetiaan, kepedulian, ketabahan, kekudusan. Baca Juga Khotbah Kristen Minggu 14 Agustus 2022 dari Bacaan Amsal 1017-32
Adasekitar 20 orang dimulai dari 3 lagu Penyembahan, Doa Firman Tuhan, Khotbah Firman Tuhan singkat, dan terakhir satu orang berdoa Syafaat dan satu orang yaitu Ibu Gembala menutup Ibadah Doa. Khotbah Doa Malam Pembicara : Ibu Yefrida Sarah Hari : Rabu, 10 Juli 2018 Pelayan Tuhan yang Setia (Roma 12:11-21)
Rancangan Khotbah Minggu Pentakosta, 15 Mei 2016Oleh Pdt. Alokasih Gulo[1] Selamat Merayakan Pentakosta, Shalom!Hari ini, kita merayakan pentakosta, merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang percaya yang berkumpul di satu tempat di Yerusalem, tidak lama setelah Yesus naik ke surga lih. Kis. 2. Sejak saat itu, terjadi perubahan besar dalam diri dan kehidupan orang-orang percaya, dari yang tadinya masih ragu-ragu bahkan takut menyaksikan Kristus menjadi berani dan bersemangat memberitakan Injil Kristus ke mana-mana, mulai dari Yerusalem sendiri hingga ke bangsa-bangsa lain, termasuk ke Roma yang pada waktu itu dikenal sebagai negara “adidaya” karena memiliki kekuasaan yang cukup besar di berbagai wilayah di luar Roma sendiri, termasuk di Israel/Yahudi. Itulah sebabnya dalam kitab Roma ini Paulus kadang-kadang menyinggung tradisi/hukum Yahudi, dan kadang-kadang juga menyinggung tradisi/hukum kita tidak hanya sekadar merayakan peristiwa pencurahan Roh Kudus tersebut secara formalitas melalui kebaktian pada hari ini, tidak pula sekadar merayakannya dengan penggunaan kain liturgi berwarna merah sampai-sampai ada yang bingung memilih warna merah tersebut merah hati, merah menyala, merah jambu, merah muda, merah delima, atau merah seperti apa?; tidak juga sekadar perayaan yang terkesan monumental atau glamor sehingga kadang-kadang mengaburkan inti dari perayaan itu sendiri. Perayaan pentakosta melebihi semuanya itu, seharusnya membawa perubahan mendasar dalam diri dan kehidupan orang-orang yang telah Paulus, orang-orang percaya pada prinsipnya telah menerima Roh Allah, dan Roh Allah inilah yang memimpin orang-orang percaya dimaksud dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, bukan lagi roh kedagingan eheha nösi niha, bukan lagi roh ketakutan eheha wa’ata’u, bukan lagi roh kefasikan dan kelaliman eheha wa lö atulö, eheha wa’afaito, eheha waguaguasa, eheha wa lö sökhi, bukan lagi roh keangkuhan eheha wayawasa ba fanandrawaisi, bukan lagi roh penghakiman eheha wanguhuku, bukan lagi roh pemecah-belah eheha wamazawili, dan bukan lagi roh pembenaran diri sendiri eheha waya’osa, melainkan pembenaran oleh kasih karunia Allah bnd. Rom. 829-30. Ketika kita dipimpin oleh Roh Allah berarti kita juga tinggal bersama dengan Tuhan sifao khö Keriso ita, dan Tuhan tinggal di dalam kita so Zo’aya ba wa’aurida, dan semuanya itu akan terlihat dengan jelas dalam kehidupan kita di mana pun kita berada. Orang yang dipimpin oleh Roh Kudus atau sebaliknya tidak dipimpin oleh Roh Kudus, akan terlihat dalam kata-katanya, terlihat dalam komunikasinya dengan sesamanya bnd misalnya orang zaman sekarang lebih mudah tersenyum kepada media komunikasinya daripada kepada sesama manusia, lebih ramah dalam dunia sosial/maya daripada dunia nyata, terlihat dalam relasinya dengan sesama selalu bermasalah atau lebih harmonis, ... terlihat dalam seluruh eksistensi hidupnya. Intinya adalah bahwa orang-orang yang telah menerima Roh Allah, yang dipimpin oleh Roh Kudus, telah mengalami transformasi kehidupan tebohouni wa’auri, hidupnya berubah menjadi lebih baik dari waktu ke apa “keuntungan” kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah itu? Apakah hanya sekadar mengubah diri dan kehidupan kita menjadi orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus? Tidak! Ternyata, Roh Kudus itu juga mengubah status kita, dan ini sangat penting dan sangat menentukan bagi masa depan kita. Implikasi dari penerimaan Roh Kudus adalah bahwa setiap orang percaya yang hidup menurut Roh Allah tersebut kini disebut sebagai anak Allah yang sudah diangkat secara sah. Dalam hukum Romawi, seseorang memang sulit diangkat sebagai anak, namun apabila seseorang sekali saja berhasil diangkat menjadi anak maka statusnya sebagai anak tersebut bersifat permanen. Metafora ini tepat untuk menjelaskan kebenaran teologis tentang jaminan kehidupan orang-orang percaya yang telah menerima Roh Kudus. Anak alamiah dapat dicabut hak warisnya bahkan “dibunuh”, tetapi orang yang telah diangkat secara sah sebagai anak tidak boleh diperlakukan lagi seperti itu. Inilah salah satu cara Paulus untuk menggambarkan keselamatan orang-orang percaya Rom. 815, bnd. 823. Jadi tidak perlu lagi ada ketakutan atau kekuatiran akan pencabutan hak waris yang telah kita peroleh dari Tuhan, tidak perlu takut lagi akan adanya penghukuman atau pembunuhan, sebab kita sekarang adalah orang-orang yang telah diangkat oleh Allah sebagai itukah “keuntungan” kita apabila sudah menerima Roh Kudus dari Allah? Tidak juga! Masih ada lagi! Orang-orang percaya yang telah menerima Roh Allah, memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Allah Bapa, Ia menjadi seperti ayah kita sendiri. Istilah “Abba” berasal dari bahasa Aram, biasa digunakan oleh anak-anak Yahudi untuk memanggil ayah mereka sendiri. Jadi, orang yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh Allah adalah anak Allah bnd. ay. 14, yang boleh berseru kepada-Nya dengan panggilan “ya Abba, ya Bapa”, sungguh suatu panggilan mesra dan akrab; ah, begitu dekatnya dengan Tuhan, dan ini boleh terjadi karena Roh Allah sendiri menolong kita dalam seruan atau doa kita kepada Tuhan bnd. Roma 826-27. Roh Kudus inilah juga yang meyakinkan kita, dan memberi kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah yang diangkat secara sah. Tentu, kita pun mesti menunjukkan perbuatan yang mencerminkan perbuatan anak-anak Allah, anak-anak yang tidak mempermalukan Bapanya, anak-anak yang tidak menyusahkan hati Bapanya, anak-anak yang membanggakan Bapanya, dan anak-anak yang begitu dekat dengan lain yang juga sangat penting dari pengangkatan kita sebagai anak-anak Allah dan keintiman kita dengan “Ayah” kita tersebut adalah bahwa kita menjadi ahli waris Allah, dan kalau kita ikut menderita dengan Kristus maka kita juga adalah ahli waris Kristus. Pewarisan seperti ini disebut sebagai pewarisan ganda, yang juga sudah dikenal dalam PL lih. Ul. 2115-17. Anak sulung mendapat dua bagian dalam warisan, pertama hak warisan sebagai anak yang lahir dalam keluarga itu, dan kedua hak waris karena ia memenuhi persyaratan khusus sebagai anak sulung. Jadi, kalau kita percaya kepada Kristus, maka kita pun memperoleh satu warisan penting, yaitu menjadi ahli waris Allah, dalam hal ini berhak menerima janji-janji Allah untuk MASUK ke dalam Kerajaan-Nya. Namun, apabila kita memenuhi persyaratan khusus, yakni ikut menderita dengan Kristus bnd. Fil. 129, maka kita juga memperoleh warisan yang kedua/ganda, yaitu menjadi ahli waris Kristus, dalam hal ini MEMILIKI Kerajaan Allah yang telah kita masuki itu bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kalau kita “dipimpin oleh Roh Allah”, dan kalau kita “hidup menurut Roh Allah”, kita pasti akan menderita dengan Kristus. Hidup menderita yang kita jalani dalam Roh Allah bersama Kristus inilah yang kemudian membuat kita dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Inilah pengharapan orang-orang percaya yang telah menerima dan dipimpin oleh Roh berefleksi, Roh Kudus pasti menyertai![1] Khotbah Minggu, 15/05/2016, di Kebaktian Siang BNKP Jemaat Denninger.
SuratPaulus kepada jemaat Roma, khususnya dalam Pasal 1:16-17 memegang peran sentral. Hampir semua penafsir Alkitab sepakat bawa inti keseluruhan Surat Roma terletak pada bagian ini. Ini adalah tema surat. Bagian yang lain, terutama Roma , hanyalah penjelasan terhadap Roma 1:16-17. Di dalam kedua ayat ini, Paulus menjelaskan alasan
RingkasanKotbah 24 Agustus 2014. "Dipanggil untuk mewujud nyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah". Roma 12:1-8. Oleh: Pdt. Darwin Darmawan. Di ulang tahun GKI yang ke-26 ini, kita diingatkan kembali oleh Tuhan agar mewujud-nyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah. GKI menyadari bahwa ibadah yang rutin dilakukan setiap minggu di
. 5opn8vxbfz.pages.dev/4715opn8vxbfz.pages.dev/1215opn8vxbfz.pages.dev/3635opn8vxbfz.pages.dev/2955opn8vxbfz.pages.dev/3685opn8vxbfz.pages.dev/4845opn8vxbfz.pages.dev/1695opn8vxbfz.pages.dev/410
khotbah singkat dari roma 14 17